Muslimah dengan Celana Ketat, Sempurnakah Hijabnya?

Posted on

Muslimah harus tau bagaimana hijabnya saat memakai celana ini.

Agama islam adalah agama yang sangat menjunjung tinggi persatuan dan kesatuan umatnya,oleh karenanya Islam memerintahkan segala sesuatu yang mendatangkan kebaikan dan melarang hal-hal yang berdampak negatif bagi umatnya seperti perintah untuk menegakkan amar ma’ruf nahi mungkar. selain itu Islam juga sangat memerintahkan umatnya untuk selalu menjaga kehormatan masing-masing, melalui aturan mengenakan hijab bagi wanita ketika keluar rumah dengan tujuan agar kehormatan mereka tetap selalu terjaga.

Dalam masalah mengenakan hijab syariat islam tidak menjelaskan bagaimana bentuk pakaian. Namun, setiap pakaian yang menutup aurat dengan memenuhi syarat-syarat yang dijelaskan oleh Rasulullah saw dalam banyak hadits,

Di antara syarat-syarat penting dalam berpakaian atau hijab adalah:

Tidak transparan atau tidak tembus pandang. Pakaian yang menutup seluruh aurat akan tetapi tembus pandang dan transparan juga tidak dibenarkan.Hal ini sebagaimana disebutkan dalam hadits Abu Daud, bahwa ketika Asma’ saudari kandung Sayyidah Aisyah masuk ke rumah Rasulullah saw dan memakai pakaian transparan, Rasulullah saw berpaling dan bersabda yang artinya
“Wahai Asma, jika wanita telah haid, maka tidak boleh nampak kecuali ini”,
sambil beliau berisyarat kepada muka dan keduatelapak tangan.

 

Harus menutup seluruh aurat tidak boleh ada yang terbuka. Para ulama menyebutnya dengan lâ taksyif (tidak terbuka).
Tidak ketat, sehingga nampak lekukan tubuh atau bentuk tubuh. Dalam sebuah hadits shahih riwayat Imam Muslim mengatakan:
“Rasulullah saw bersabda: “Ada dua kelompok penghuni neraka yang aku tidak akan melihat keduannya, yaitu satu kaum yang membawa cameti seperti ekor sapi yang memukuli orang-orang, dan perempuan-perempuan berpakaian, akan tetapi hakikatnya mereka telanjang. Mereka jauh dari ketaatan kepada Allah, dan selalu melakukan perbuatan tercela padahal mereka mengetahuinya. Kepala-kepala mereka seperti punggung unta yang tinggi dan miring. Mereka tidak akan masuk surga, juga tidak akan mencium bau surga. Padahal wangi surga itu dapat dicium dari jarak perjalanan yang menghabiskan waktu segini dan segini (maksudnya yang sangat jauh) ” (HR. Muslim).

Imam Nawawi dalam Syarahnya Shahih Muslim, ketika menjelaskan wanita berpakaian tapi telanjang mengatakan: yaitu memakai pakaian tipis yang membentuk lekukan tubuhnya.

 

Ibnu Abdil Barr, seorang ulama Maliki, dalam kitabnya at-Tamhîd juga mengatakan yang sama, bahwa yang dimaksud dengan wanita berpakaian tapi telanjang adalah, wanita yang berpakaian tipis dan membentuk tubuhnya. Ia kemudian berkata: “Secara lahir ia berpakaian, tapi hakikatnya ia telanjang ” ( kâsiyât bil ism, ‘âriyât fil haqîqah).

Lalu bagaimana dengan celana ? bukankah masih banyak lekuk tubuh yang terliha?

Sahabat ihram, hakikatnya pakaian apapun selama masih memenuhi persyaratan-persyaratan di atas, diperbolehkan,untuk memakainya termasuk celana panjang. Dengan syarat, celana itu menutup aurat, tidak ketat, tidak transparan dan tidak memancing perhatian orang yang melihat. Di samping itu , mereka yang memakai celana panjang diusahakan agar bajunya juga panjang sampai dengkul atau kaki.

Karena jika celana panjang tersebut memenuhi semua persyaratan, akan tetapi baju yang dipakainya pendek tentu juga tidak dibenarkan, karena akan mengundang banyak perhatian orang lain, dan akan membentuk tubuh bagian belakangnya

Dalam hadist lain di jelakan pula:

Tidak boleh bagi wanita menggunakan pakaian semisal itu di hadapan lelaki yang bukan suaminya. Karena pakaian yang demikian dapat menggambarkan bentuk-bentuk tubuhnya. Dan wanita diperintahkan untuk menutup seluruh tubuhnya karena ia adalah fitnah (cobaan). Dan semua pakaian yang dapat menggambarkan bentuk tubuh wanita tidak boleh dipakai di hadapan para lelaki, atau para wanita, atau para mahram dan yang selain mereka. Kecuali suami, ia boleh melihat istrinya pada seluruh tubuhnya.

Maka di hadapan suami boleh menggunakan pakaian yang ketat atau semisalnya. Wallahu a’lam.

 

Sumber:media.ihram.asia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *