Wanita: Kedewasaan Itu Tidak Hanya Dilihat Dari Umur Atau Pemikiran, Tapi Dilhat Dari Besarnya Ikhlas Yang Ada Dihati

Posted on

Sering kita mendengar seseorang memberi nasehat dengan kalimat “Dewasalah” saat yang menerima nasehat adalah sosok orang yang selalu bertingkah ceroboh dalam menjalani hidupnya, taupun berpikir sembrono dalam memutuskan sesuatu. Tetapi jika ditela’ah lebih dalam lagi, mengatagorikan dewasa itu amatlah sulit, dan dewasa itu bukan hanya tentang umur ataupun tentang pemikiran. Karena yang paling sulit dalam kedewasaan diri adalah bagaimana caranya kita benar-benar menjadi peribadi yang dewasa dengan mempunyai segudang pertahanan hati yang disebut dengan “Ikhlas”.

Mengapa harus ikhlas? Karena ikhlas dalam jembatan seseorang itu bisa selalu menempatkan dirinya untuk tetap berpikir bijkasana, pengendalian pikiran sangat diperlukan yang namanya pengendalian hati, dan ikhlas adalah ilmu utama yang harus diajarkan oleh kita untuk terus menata hati agar tetap terkendali dengan baik. Karena dewasa itu sesungguhnya tidak hanya dilihat dari umur atau pemikiran, tetapi dilihat dari besarnya ikhlas yang ada dihati. Sebab, sedewasa apapun seseorang jika hatinya tak ada kata ikhlas, lebih tepatnya ikhlas memberi maaf pada orang lain, maka tetap saja ia seperti anak kecil.

Dewasa Itu Ketika Kita Mampu Memaafkan Orang-Orang Yang Pernah Berbuat Salah Kepada Kita, Tanpa Mereka Meminta Maaf Terlebih Dahulu

Dewasa itu ketika kita mampu memaafkan orang-orang yang pernah berbuat salah kepada kita, tanpa mereka meminta maaf terlebih dahulu kepada kita. Sulit? Iya memang sangatlah sulit, tetapi sulit itu akan dirasa mudah bila kita melakukannya dengan cara belajar dan terus belajar, karena tingkat kedewasaan yang paling tinggi itu adalah ketika kita berpikir bijaksana dalam keadaan hati yang selalu ikhlas.

Dewasa Itu Ketika Kita Dengan Ikhlas Menerima Maaf Dan Tidak Mengungkit Kesalahan-Kesalahan Orang Yang Telah Menyakitimu

Dewasa itu ketika kita dengan ikhlas menerima maaf dan tidak mengungkit kesalahan-kesalahan orang yang telah menyakitimu. Sebab tak sedikit dari kita yang katanya sudah memberi maaf, dan sudah bersalaman dan juga berpelu-pelukan sebagai tanda bermaaf-maafan. Tetapi apa? Saat ada orang yang mengungkit, dia masih begitu gemar menceritakan kesalahan orang tersebut dengan sangat teliti dan panjang. Yaelahh…ikhlas itu bukan sekedar memberi maaf cukup, tetapi benar-benar melupakan segala kekhilafan yang ada.

Dewasa Itu Ketika Kita Tetap Berteman Seperti Biasa Dengan Orang-Orang Yang Pernah Ada Salah Dengan Kita

Dewasa itu ketika kita tetap berteman seperti biasa dengan orang-orang yang pernah ada salah dengan kita. Hal itu membuktikan bahwa kedewasaan itu butuh yang namanya ketulusan hati dalam bersabar, dan kelapangan hati dalam melupakan kekhilafan orang lain, bukan hanya sekedar dewasa umur, dewasa pemikiran, dan dewasa tingkah laku, tetapi yang paling utama adalah mengajarkan hati untuk bersabar dan ikhlas selalu.

Jika Kau Masih Menjaga Jarak Atau Menghindar Hanya Karena Kesalahpahaman Dengan Orang Lain, Maka Jiwamu Masih Kekanak-Kanakan Meskipun Usiamu Sudah Dewasa

Karena jika kau masih menjaga jarak atau menghindar hanya karena kesalahpahaman dengan orang lain, maka jiwamu masih kenaka-kanakan meskipun usiamu sudah dewasa. Karena sifat seperti itu bisanya hanya dilakukan oleh anak-anak yang bertengkar, mereka saling ngambek dan saling tidak bertutur sapa, tetapi bisanya pula hal itu tidak berlangsung lama. Dan jika saat ini kamu masih dalam posisi seperti anak-anak tadi, bahkan lebih parah bertengkarnya karena kesalahpahaman yang disebabkan, hingga bertahun-tahun misalnya ajang tidak bertutur sapanya, maka dirimu bukan hanya seperti anak-anak, tetapi lebih parah dari anak-anak.

Karena Membuang Sifat Pendendam Menjadi Pemaaf Adalah Merupakan Bekalmu Menjadi Orang Tua

Karena perlu kita tahu bahwa membuang sifat pendendam menjadi pemaaf adalah merupakan bekal untuk menajdi orang tua. Sebab apa? Sebab menjadi orang tua itu bukan hanya mempersiapkan umur dan kecakapan dalam berpikir, tetapi kelapangan untuk selalu bersabar dan ikhlas dalam mendidik anak-anaknya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *